Pileuleuyan Kang Darso...

darsoSenin Sore 12 September 2011 pukul 15:39 WIB, saya menerima khabar dari kawan pemusik orgen tunggal Deden, yang mengabarkan bahwa DARSO – MAESTRO CALUNG SUNDA meninggal dunia. Sontak saya langsung melakukan komunikasi mendalam mengenai khabar ini kepada Kang Deden. Karena masih siaran hingga jam empat sore, maka saya bersepakat untuk merapat ke rumah almarhum di daerah Karasak, Soekarno Hatta Bandung. Informasi dari Kang Deden, Almarhum biasanya tinggal di Karasak yang kebetulan satu RW dengannya.
Usai siaran, saya sempatkan membuat ucapan duka cita untuk disiarkan melalui 90.9 LITA FM, hingga jelang maghrib. Belum beranjak terlalu malam, saya sudah menemui Kang Deden, dan diantar ke rumah anak almarhum di Karasak, yang ternyata jenasah di bawa ke rumah anak almarhum lainnya di Soreang Kabupaten Bandung.

Malam ini, saya dapatkan informasi bahwa jenasah akan dimakamkan bersebelahan dengan makam istri pertama Kang Darso pada Selasa 13 Sept 2011 di pemakamam umum Cibarunai, Sarijadi Kota Bandung. Terakhir, saya sempat bincang dengan almarhum saat mengisi acara Kampanye KB – IUD di Kota Tasikmalaya pada 24 November 2010 yang lalu. Kan Darso kala itu sempat nyanyi beberapa lagu untuk menghibur ribuan peserta kampanye KB – IUD pula peserta Jalan Sehat yang telah memadati Alun Alun Kota Tasikmalaya. Kala itu, kedatangan Darso sungguhlah menjadi magnet tersendiri bagi ribuan massa yang hadir. Acara yang sebelumnya telah diisi dengan beberapa penampilan lagu dangdut, nampaknya tak membuat ribuan massa mendekat ke panggung utama. Setelah alm. Darso naik panggung, layaknya laron yang menyerbu lampu terang benderang. Beberapa lagu yang sempat dilantunkannya, sontak mendapat sambutan meriah dari hadirin. Mereka tak hanya ikut menyanyi, namun ribuan massa yang sebagian besar adalah para ibu itu,turut berjoget meski pagi mulai panas dengan terik matahari. Semakin heboh, ketika Darso melantunkan Kabogoh Jauh, semua yang hadir tupah ruah merapat ke panggung. Bahkan beberapa ibu ibu, nekad naik ke panggung untuk joget jarak dekat dengan almarhum. Bahkan usai penampilan, almarhum terpaksa diamankan pihak panitia karena saking banyaknya orang yang ingin berfoto bersama. Saya hanya sempat tanyakan khabar dan komentarnya mengenai program KB kepada almarhum. Ia hanya berkomentar, program KB janganlah di abaikan oleh warga Jabar. “Lier, loba teuing anak mah”, demikian komentar Darso singkat, sesaat sebelum meninggalkan panggung dan diamankan panitia, untuk menghindari serbuan ibu ibu.

 

Pileuleuyan Kang Darso...