Kabar Sekitar Kita

Pola Hidup Tidak Sehat,Timbulkan Hepatitis A

hepPenyakit Hepatitis A bisa di hindari  dengan men-tradisikin prilaku hidup sehat. Pola hidup tidak sehat alias jorok inilah yang menyebabkan timbulnya hepatitis A. Misal dalam memilih makanan harus selektip dan hati-hati, jangan asal makan supaya perut kenyang.

Lebih dari itu, tanyakan kepada si penjualnya apakah dalam membuat makanan dagangannya tidak asal masak. Apakah menggunakan sarung tangan waktu membuatnya dan menggunakan  alat-alat yang bersih dan higienis. “Jangan asal jajan saja,” kata dr.Alma Lusiana, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, beberapa waktu lalu kepada Lita Fm.

Menurut Alma, Dinas kesehatan hanya bisa menghimbau, masing-masing insan harus menjadi polisi buat dirinya sendiri, agar terhindar dari virus hepatitis A.” Tidak mungkin 43 juta jiwa harus di pelototin satu persatu,” katanya. Biasakanlah disiplin terutama dalam mengkonsumsi makanan.

Para pedagang juga di himbau untuk tidak melakukan kecurangan dalam mengolah barang jualannya, apalagi mencampur bahan yang membahayakan kesehatan manuisia.

Sebagai orang tua sudah semestinya mengawasi dan mengingatkan anak-anaknya agar tidak jajan sembarangan,lebih baik anak dibekali makanan dari rumah untuk mengurangi minat jajannya di sekolah.

Perilaku hidup sehat semestinya di tanamkan pada anak-anak kita sejak dini. Siapa lagi yang bisa memproteksi kita secara benar dan kontinyu kalau bukan kita sendiri.

 

Kita Membaca Dengan Hati

narkobaJika anda datang dari arah jalan Soekarno Hatta, memasuki pintu masuk terminal bus Leuwi Panjang, persis di depan loket penjualan tiket transportasi. Terpampang sebuah A Board ukuran sedang,sekira 80cmx125cm,bertuliskan,”ANAK BANGSA TERANCAM MATI SIA-SIA KARENA NARKOBA.” Kalimat dalam tulisan a board yang di persembahkan oleh Dinas Perhubungan Kota Bandung tersebut sebenarnya sering kita baca dan sering kita dengar dari media elektronik. Bahkan secara khusus kalimat tersebut sering di dengungkan dalam kampanye perang terhadap Narkoba.

Kalau mata hati yang membaca kalimat peringatan dari Biro Bina Mitra polda Jabar ini,Miris rasanya kita.! Betapa tidak, realitanya dari tahun ke tahun korban narkoba terus meningkat,nyawa lelayang sia-sia, materi triliyunan rupiah ludes tak karuan, belum lagi dampak psikologi bagi keluarga korban. Narkoba juga penular produktif HIV/AIDS melalui jarum suntik prevalensinya lebih tinggi ketimbang via free seks.

Akhir-akhir ini muncul fenomena “Isap Aibon” kebanyakan dilukukan anak-anak jalanan (anjal) supaya bisa fly, katanya. Aibon adalah lem terbuat dari campuran bahan mirip karet muda, trepentin dan campuran zat lainnya, kebanyakan digunakan oleh tukang sol sepatu, untuk menepelkan anatara kulit atau bahan imitasi lain dengan yang sejenisnya, sering juga dipakai tukang servis kursi dan tambal ban.

Aibon ini gampang di dapatkan karena bisa dibeli di toko besi harganya relative murah. Setelah di buka wadahnya berupa kaleng ukuran kecil, akan tampak gumpalan alot berwarna kuning ke emasan dan mengeluarkan aroma bau yang menyengat. Bau menyengat itulah yang di isap hidung dalam-dalam oleh si pemakainya,  dilakukannya berulang-ulang isapan hingga aroma baunya berkurang dan yang menghisapnya merasa terhipnotis (puyeng/lieur ) oleh lem tersebut.

“ Gila tuh anak, aibon di hisap!”, kata se orang teman saat menyaksikan fenomena “ Isap Aibon” di salah satu sudut kota Bandung. Secara logika jika lem di hisap hidung dalam-dalam, akan mempengaruhi kerja otak lebih jelasnya berdampak negatip pada kesehatan tubuh manusia.

Bangsa ini membutuhkan generasi penerus yang sehat, kuat dan siap bersaing dalam percaturan dunia global, jika tidak mau ketinggalan kereta dari bangsa lain, beberapa negara begitu spektakuler perkembangan ilmu teknologi, industri, ekonomi, pendidikan, kesehatan  dan berbagai aspek lainnya yang begitu melesat pesat.

Lalu apa yang harus di lakukan untuk memeranginya, supaya bisa lepas dari jerat-jerat setan narkoba ini. Mungkin tulisan-tulisan yang sering anda temukan baik melaui baligo, a board, pamplet, buku bacaan, tayangan televise, atau selebaran kampanye perang terhadap narkoba.

Bukan hanya sekedar di baca dan di dengar kemudian dalam waktu sekejap hilang maknanya, tetapi bagaimana membaca dengan hati, dan mengimplementasikannya kedalam lingkungan keluarga, tempat tinggal atau komunitas lingkungan kita, dengan cara menyampaikan pemahaman  dampak buruknya, dan secara langsung memproteksi (melindungi) keluarga dari bahaya narkoba tersebut.

Barangkalai akan lebih mengena jika kita menggali  pengetahuan tentang bahanya narkoba lebih dalam lagi dan contoh-contoh korbannya. Perang terhadap narkoba bukan hanya tugas aparat pemerintah semata, tetapi juga tugas kita, selaku elemen bangsa.

Kalimat yang terpampang di aboard itu seharusnya ditempatkan di lokasi yang sangat  strategis posisinya agar mudah di baca, dan lebih banyak di pasang di tempat-tempat yang memiliki tingkat keramaian di atas rata-rata. Sebenarnya masih kurang bertebaran reklame anti narkob. Untuk menunjang keberhasilan perang terhadap narkoba, seharusnya memang lebih gencar lagi di pasang di semua sudut strategis. Barangkali terkait kost produksi. Benar untuk mewujudkan sesuatu perlu biaya. Tapi itu bukan hal atau kendala, ada kepentingan bangsa dan negara jauh lebih penting segera di wujudkan yakni membebaskan masyarakat dari bahaya narkoba, guna menyongsong masa depan lebih baik.

Tampilkan dengan berbagai macam gambar menarik dan kalimat pesan pengingat yang lebih prsetisius menyedot perhatian dan menggugah hati pembacanya. Supaya tumbuh rasa penasaran, kemudian membacanya berulang ulang hingga kemudian membacanya dengan mata hati.  Berawal dari mata turun ke hati.

Perang terhadap narkoba yang kerap  digelorakan melalui simbol-simbol peringatan, yuu kita dukung sepenuhnya, kita sikapi dengan tindakan nyata dengan langkah awal memproteksi keluarga dari ancaman narkoba.  Karena ini bentuk upaya dari arena perang total terhadap narkoba dan sejenisnya.

 

Rambutan Si Madu

rambutanIndonesia selain dikenal sebagai negara maritim (sebagian besar wilayahnya berupa lautan), dikenal juga sebagai negara agraris (pertanian), karena memiliki tingkat kesuburan tanah air yang mendekati sempurna, ditunjang dengan iklim tropis yang hanya mengenal dua musim yakni kemarau dan musim penghujan. Karena kesuburan tanah dan pesona alamnya yang luar biasa,  membuat wilayah nusantara jaman dulu jadi rebutan (primadona) para kolonial untuk mendudukinya.

Group musik legendaris Koes Plus dalam penggalan syair lagunya menggambarkan kesuburan tanah dan lautan,” Bukan lautan hanya kolam susu/ Kail dan jala cukup menghidupimu/ Tiada badai tiada topan kau temui/ Ikan dan udang menghampiri dirimu/ Orang bilang tanah kita tanah syurga/ tongkat kayu dan batu jadi tanaman”//.

Apapun yang ditanam di negeri khatulistiwa ini, tumbuh subur hingga menghasilkan buah atau umbi-umbian. Apalagi kalau cara menanamnya dengan teknik pertanian yang cocok diterapkan di negara kita.  Banyak masyarakat berhasil dan terangkat tarap kehidupannya dari bertani hingga sebagian dari mereka termasuk katagori juragan atau (sudagar kaya) semua dari mata pencaharian bertani.

Pedagang Rambutan.

Musim durian belum habis, di sambut musim mangga dan kini datang musim rambutan. Ini bukti dari kesuburan tahan air kita. Selesai musim rambutan biasanya musim dukuh menyusul kemudian. Belum lagi buah-buah lain yang tak mengenal musim. Subhannalloh betapa sayang nya sang pencipta Allah SWT terhadap bangsa ini.

Ada beberapa jenis rambutan yang sering di buru orang,sepertia rambutan Rafi’ah, Si Ida, Si Madu hingga si Mana lagi. Rambutan jenis ini selain mudah di kupas isinya padat tidak ber air dan manisnya di atas rambutan rata-rata.

Orang bilang mangga dan rambutan lebih aman pada tubuh di bandingkan durian, terlebih jika durian di konsumsi oleh mereka yang mengidap diabetes, kolestrol atau asam urat, alamat kambuh jika makan buah berduri yang memiliki aroma harum  menyengat hidung ini. Dari sisi hargapun mangga dan rambutan relative lebih rendah, untuk satu kilo gram saja cukup mengambil kocek tiga ribu saja. “ Pangaos sakitu lantaran nuju musim pak, pami langka mah tiasa dua kali lipet,” ujar Vera (28) pedagang buah rambutan di bawah flyover Cimindi, saat di jumpai Dony Lita Fm, Senin (2/01).

Di berbagai sudut kota Cimahi dan Bandung terutama di area seputar pasar,kita akan menemui pedagang buah rambutan, pandangan mata di manjakan oleh dominasi warna merah plus kuning tua, dagangannya ada yang di jajakan memakai gerobak roda dua, di atas meja bahkan tak sedikit di jajakan di bak mobil pic up, yang terakhir ini bisa berpindah-pindah lokasi tergantung situasinya.

“ Saya juga dari Cililin, jualan di sini sareng caroge atos opat tahun jalan, milih tempat didieu kumargi  lumayan rame.” Kata Vera. “ Tapi pak ulah lepat, upami nuju ceuyah (hasil panen melimpah) justru untungna teh sekedik, benten sareng  rambutana nuju hese lumayan untungna, ieu rambutan ti Subang si Lebak Bulus tea” Jelas ibu tiga anak ini.

Memang yang namanya usaha itu pluktuatif, kadang untung kadang hanya kembali modal, apalagi jualan di tempat umum, harus berhadapan dengan konsekwuensi lain semisal pungutan harian yang harus di bayar. “ Abdi oge sadinten 10 ribu pak, bayar ke tibum (ketertiban umum),Satpol PP kitu teras PAC, pengurus GMPC, teras mayar parkir, kirang langkung 10 rb, teu aca anu mingguan sareng bulanan, anu bulanan 50 rb, da upami di rata-ratakeun mah paling kekengengan dagang sa dinten  mung 100 rb, di cekap-cekapkeun we kanggo ngurus murangkalih tilu urang mah,” Cetus Vera dengan polosnya.

Tapi bagi Vera dan sang suami Hernis (42) jualan di tempat umum dijalaninya dengan sabar terbukti sudah empat tahun mereka jualan disini,” ya pak apalagi atuh kalau bukan jualan mah, kasian anak-anak perlu biaya sekolah dan makannya,sekarang saya tidak pulang pergi ke cililin, sebab ngontrak di sisini,” jelas vera, seraya berharap tetap bisa berjualan di cimindi dan mudah-mudahan tetap aman tempatnya, tidak di usir ke tempat lain. “Sesah upami kedah ngawaitan ti enol deu mah pak “ harapnya.

Dari cerita singkat Vera si pedagang rambutan ini, bahwa hidup akan terasa manis seperti rasa rambutan asal subang bernama si lebak bulus, yang penting kita bisa mensyukuri hasil jerih payah usaha itu sendiri dan tetap menjalaninya dengan penuh tanggung jawab, demi keluarga dan orang-orang yang ada di belakang pundak kita. (Dony Prasetya)

 

Well's Snack, Mimpi Oddie & Dian

oddiedian2Dua anak muda itu, dengan penuh semangat dan percaya diri menawarkan makanan ringan kepada siapapun yang melintas didepannya. Mereka dengan santun mencoba “merayu” kepada ‘calon pembeli’, yang sebagian besar adalah pengunjung “pasar kaget” Minggu pagi di lapang Gasibu Bandung dan jalan Diponegoro.

Dua anak muda itu adalah Odie dan Dian. Berjualan makanan ringan yang baru dirintisnya selama semingguan, adalah keasyikan tersendiri bagi mereka berdua. Yang mereka tawarkan adalah Sale Pisang Keju, Sale Pisang Coklat dan Sale Pisang Strawberry, serta makanan ringan lainnya. Tak harus menggunakan mobil yang bagian belakang-nya dibuka, mereka cukup menggunakan motor dalam berdagang.

“Ini memanfaatkan peluang mas. Sekaligus kami sedang merintis usaha, siapa tahu kedepan kami bisa juga mencicipi sukses sebagai pengusaha muda”, tutur Odie. Ditambahkan Odie, semenjak mencuat dan terkenalnya makanan ringan khas Bandung bermerk seperti Keripik Singkong Karuhun, Keripik Pedas Ma Icih, dan lain lainnya itu, membuat banyak anak muda mencoba peruntungan yang sama dengan menjadi ‘Bandar Besar Makanan Ringan’.

“Kami tak ingin sekadar ikut ikutan. Prinsipnya, hal yang baik kan tidak apa apa diikuti. Semangat menjadi pengusaha muda adalah yang utama. Menjadi Enterpreneur, dengan menemukan makanan olahan baru, sehingga makin banyak varian dari Bandung”, ditambahkan Dian.

Odie dan Dian, hanya contoh kecil anak anak muda Bandung yang terus bekreasi dalam industry kreatif khususnya makanan ringan khas. Tak hanya Sale Pisang berasa, mereka juga telah mengkreasikan keripik pedas berbahan umbi umbian lainnya. Hanya memang soal kemasan mereka belum menggunakan ‘packing’ yang seperti ‘menjual’.

Penasaran dengan makanan ringan kreasi orang rumahan-nya Odie dan Dian? Anda bisa menjumpai mereka di Gasibu setiap Minggu pagi. Jangan lupa, merk dagang atau brand mereka adalah “Well’s”.

 

Kartu Pos & Keroncong

kartupos
Dengan Hormat

Saya selalu mendengarkan acara lagu2 keroncong di radio Lita,

mohon diputarkan lagu lagu berjudul : (1) Pulau Bali (2) Pasir Putih (3) Bubuy Bulan - (Dari penyanyi wanita yang asli)

Tidak usah sekaligus, kalau sekaligus lebih baik, seratus (110) untuk tuan parto j ! Oh lupa, mohon juga lagu jauh sudah dari penyanyi wanita saja. Thank you so much for your effort !!!

Wass
Oki (Tetangga Lita FM @Cimindi)
31 Okt 2011

Kartu Pos berperangko 1500 rupiah ini, minta untuk di baca dalam acara Kharisma Keroncong, Jumat 04 November 2011 lalu.

 
Artikel yang lain...