Suara Khas itu akan Menghilang dari Udara...

bu imas“Kepak sayap kecil hantar seekor lebah singgah di ujung putik bunga, di ciumnya  penuh kelembutan, setetes demi setetes ia hisap sarinya, dari satu bunga menepi ke bunga lain begitu seterusnya ia lakukan tanpa membuatnya terluka, tak sekalipun mematahkan ranting apalagi membuatnya mati, lebah mendapatkan sari bunga bukan untuk kepentingan dirinya, namun ia peruntukan  bagi kehidupan mahluk lain yang lebih membutuhkannya,” Filosofi lebah ini yang saya jewantahkan dalam bekerja sebagai seorang penyiar (announcer) tuturnya.

Nama lengkapnya Imas Siti Rokayah,lahir di Bandung  18 Pebruari 1953. Anak ke tiga dari delapan bersaudara, buah hati pasangan Aju Ramawijaya dan Euis Jumdanah (keduanya telah tiada).  Imas penyiar senior (90,9) Lita fm Bandung, di udara populer dengan sebutan “Teh Imas Dasuki Irawan”

(Candra Dasuki Irawan nama suaminya,nama udara itu diperkenalkan tahun 1988,setelah vakum dari aktivitas siaran selama 10 tahun )suaranya khas bersahaja (familier) tiap senin sampai sabtu mengalun mengisi mayapada Bandung melalui program unggulan Lingkaran Keluarga (LK),dari pukul 09.00 s/d 12.00 Wib,sebuah program  dengan kontent hiburan  keluarga, menyajikan lagu-lagu jaman dulu (jadul) era 55 s/d 70-an.

Perempuan yang menamatkan SD-nya di Ciparay, Kab.Bandung ini,ketika siaran tutur katanya terucap lentur tersusun rapi, mengalir dalam kalimat yang lugas singkat dan mudah dicerna ,intonasi dan artikulasinya jelas serta kaya akan diksi  dan improvisasi, ini antara lain kelebihan penyiar yang sudah 39 -tahun malang melintang di dunia broadcast , ia jeli  menebak suara pendengar, meski sudah setahun tidak beratensi saat muncul di frekuensi, Imas  langsung bisa menebak dengan benar si empunya suara tersebut, ironis terhadap benda miliknya ia sering lupa, tidak jarang ketinggalan hp atau kaca mata bahkan dompet se usai tugas tertinggal di ruang siaran. Suatu waktu Agenk bagian produksi berkomentar,”Teh Imas sering lupa pada benda miliknya tapi aneh tidak  mudah lupa terhadap suara pendengarnya.” Banyak hal-hal lucu tentang dirinya, ia telaten melayani pendengar, perangainya ramah tak suka membeda-bedakan (dikotomi) dari kalangan mana pendengar berasal, ia juga selalu sabar ketika ada fans yang sedikit”nyeleneh” dilayaninya dengan senyum dan canda gurau hingga pada akhirnya mencair jadi hangat. Kelebihan itu menjadi alasan utama penyiar yang memiliki dua putra ini di sukai banyak orang.

Atas semua itu tidak lantas membuatnya besar kepala atau sombong malah sebaliknya ia semakin rendah hati dan mawas diri,” di kenal banyak fans lumrah saja, karena saya penyiar terlama di sini, jika pada usia setengah abad lebih masih ada pengagum, Syukur Alhamdulillah terima kasih banyak” katanya singkat sambil tersenyum.

Cita-cita Jadi Polisi

Kesetiaan fans melebihi dugaan kita terkadang mereka memposisikan kita melebihi saudaranya, ini mungkin tidak ditemukan pada profesi lain, memperoleh sahabat baru memang susah tapi bagi penyiar ia datang dengan sendirinya,namun kita harus tetap selektif menerimanya.Kebaikan saya pernah  disalah gunakan untuk sesuatu yang  kurang bagus,saya juga pernah di kibuli (oknum )pendengar yang tidak bertanggung jawab,tapi  itu pengalaman berharga selama jadi penyiar “memang banyak cerita unik, menggeluti profesi ini banyak sukanya ketimbang duka,”tambah Teh Imas seraya tertawa sumringah, padahal sejak kecil cita-citanya jadi  Polisi Wanita (Polwan).

Ke inginan menjadi Polwan ter-inspirasi oleh kesederhanaan dan kedisiplina ayah dalam mendidik kami, ia pensiunan polisi yang baik perilaku dan sikapnya itu menjadi tauladan buat kami anak-anaknya. ”Membayangkan jadi polisi,seragam warna  coklat tua menempel berbagai atribut dikiri kanannya, sebuah topi lekat di kepala, disamping pinggang terselip sepucuk pistol, dengan kaki tegap  melangkah menuju kantor, betapa gagah dan berwibawa, mungkin seperti Ayah ha-ha-ha-ha-ha-katanya sambil ketawa lepas, namun tiba-tiba hening sejenak tatap matanya nanar nerawang kesegala sudut, seperti meningat-ingat sesuatu. “Ternyata kenyataannya jauh sekali dari angan-angan masa kecil ,”ungkapnya lirih.

Menyesal tidak jadi polisi ? “Oh saya tidak pernah menyesali apapun yang telah terjadi,ini jalan hidup terbaik yang Allah Swt berikan,saya bangga jadi penyiar lita” tandasnya. Ibu dari Irwan Setiawan(21) dan Muhamad Fahrurozi(16) ini, awalnya hanya iseng-iseng saja waktu itu tahun 1972 persis ditahun berdirinya Litasari, saya belajar siaran di sini untuk mengisi waktu luang, pelan tapi pasti hadir juga kecintaan terhadap pekerjaan yang pada era tersebut merupakan favorit kawula muda, profesi penyiar adalah profesi eksklusif, hanya mereka yang bertalenta tinggi dan mempunyai pengetahuan luas bisa jadi penyiar, Imas Dasuki Irawan membuktikan itu betapa panjang proses waktu yang dilaluinya untuk menjadi seperti sekarang (Penyiar Panutan). Mencuplik sebuah kalimat yang dikatan Uni Lubis, Anggota Dewan Pers/Ketua Asosiasi Televisi Swasta Indonesia(ATVSI), saat memberikan mata kuliah di SJI beberapa waktu lalu ”Menjadi penyiar handal, berwaswasan, profesional tidak gampang untuk mewujudkannya butuh waktu, pembelajaran, pengalaman dan kemauan yang gigih,”

Media Massa dan Kesan Pendengar

Ketertarikan banyak pihak pada acara LK terus meningkat, tahun 2009 Metro TV menayangkan Profilnya, harian koran Kompas memuat berita LK hampir setengah halaman, Medio 2008 Panghegar Hotel-gandeng LK selenggarakan Bandung Oldies Paradise. ”Saya tidak pernah mengira banyak pihak  tertarik acara LK, buat saya ini pengalaman sangat istimewa saya akan mengenangnya  terus,” ungkapnya haru dan bangga.

Disela-sela acara Bandung Oldies Paradise Direktur Hotel Panghegar-Bandung, H.Hilwan Saleh mengatakan ”jiwa Imas Dasuki Irawan telah menyatu dengan tembang-tembang era 55s/d70-an, nuansanya LK terasa jaman dulu banget, ia salah satu penyiar di Kota Bandung yang sanggup mempertahankan eksistensi dan warna acara, alunan vocalnya menggiring kita mengembara ke masa silam, saya bangga pada Lita fm khusunya LK yang telah ikut berkontribusi lestarikan album-album nostalgia” katanya.

Sedangkan menurut dr. Hajjah Rosni Mahria Hasibuan, Karyawan RSUD Cibabat-Cimahi,” cara membawakan LK pas banget menyatu dengan materi dan format lagunya, pandai mengatur ritme  dan karakter acara ia kuasasi penuh, Teh Imas penyiar idola saya” ucap dr. Rosni. Hal lain dikataka Any Anggraeni Pengusaha Garmen dari Jln.Dewi Sartika Bandung ”kelebihan teh Imas adalah tanggung jawabnya yang tinggi pada LK, ia sangat beda dengan penyiar lain, bisa menanggalkan situasi hatinya di luar tugas,enjoy dan kesannya sangat menikmati tugasnya, ini tercermin dari caranya siaran yang tanpa beban seolah tidak pernah punya masalah, itu sikap profesional totalitas waktunya untuk tugas tidak mencampur adukan  masalah pribadi ke udara, penyiar lain terdengar jelas kalau sedang tidak mood (situasi hati buruk),bagaimana caranya menyembunyikan urusan pribadi dan melayani pendengar di udara dengan baik, seharunya mereka belajar ke Teh Imas,”cetusnya menginput  sekaligus mengkritisi via telpon beberapa waktu lalu.

Apresiasi dari berbagai pihak itu secara tidak langsung merupakan penghargaan (reward) terhadap “Imas Siti Rokayah” alias Imas Dasuki Irawan plus LKnya. Acara yang dikelonya selama kurun waktu 39-tahun itu akan segera ditinggalkan ”keputusan untuk pensiun sudah final ini hasil pertimbangan matang, saya sangat mencintai lita dan pendengarnya (keluarga lita), tapi apa boleh buat karena kondisi kesehatan saya mulai menurun usia merambat senja (57) tahun, saatnya untuk mengurangi aktivitas, giliran yang muda-muda tampil lebih kedepan, seraya berpesan “Teruslah berjuang demi kejayaan Lita FM” saya akan menikmati hari tua sambil sesekali belajar  bisnis kecil-kecilan ” katanya diantara nada suaranya yang tersedak.

Mulai satu Januari 2011,frekwensi 90,9 Lita Fm kehilangan suara khas penyiar “pujaan” yang telah menjadi icon lita selama puluhan tahun, suara khasnya  itu takan lagi menghiasi birunya cakrawala siang hari, meski begitu kebaikan ”Imas Dasuki Irawan” akan tersimpan di bingkai hati penggemarnya, karena ia telah memberi banyak arti dan kenangan manis selama menjadi awak siar Lita FM. Bak filosofi lebah yang jadi prinsif hidupnya datang  dan pergi memberi banyak manfaat bagi kehidupan yang lain. (DP/Lita Fm)

Suara Khas itu akan Menghilang dari Udara...