SJ Content Slideshow

:

    
  • 1

  • 2

  • 3

  • 4

  • 5

“Papi pernah bilang cinta sama Mami. Itu artinya seluruh hidup Papi, Papi berikan untuk Mami sampai Papi nanti mati.”

Agaknya siapa pun pemirsa sinetron Preman Pensiun yang ditayangkan sebuah stasiun televisi swasta pada awal 2015 belum lupa ucapan Kang Bahar yang diperankan Didi Petet.
Siapa sangka, hari ini, Jumat (15/5), kata-kata itu menjadi kenyataan. Sang pemain watak yang amat mencintai sinema itu telah tiada. Dunia perfilman dan masyarakat Indonesia berduka.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf yang juga ayah penyanyi Sherina Munaf, mengatakan Didi Petet meninggal karena sakit yang ia derita. “Beliau meninggal hari ini pukul 05.00 WIB karena sakit. Sepulang dari Milan, kira-kira tiga hari lalu, rupanya recovery-nya kurang baik,” kata Triawan 

Didi wafat di usia 58 tahun. Sinetron Preman Pensiun menjadi ladang akting terakhir bagi pria kelahiran Surabaya, 12 Juli 1956 itu. Padahal, sinetron Preman Pensiun 2 sedang dipersiapkan.

Semasa hidupnya, Didi dikenal sebagai aktor dan guru akting yang mumpuni. Belasan penghargaan dia raih. Salah satunya Lifetime Achievement MTV Indonesia Movie Award 2004.

Dari puluhan judul film yang pernah dibintanginya, yang paling melekat di benak masyarakat ialah aktingnya saat membintangi Catatan Si Boy (1987), Si Kabayan Saba Kota (1989), Petualangan Sherina (2000), Pasir Berbisik (2001), Arisan! (2003), dan yang paling gres, Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015).

Selain dikenal sebagai aktor watak jempolan, Didi dihormati karena pemikirannya yang bernas. Di sebuah kesempatan, pada Maret lalu, Didi berbagi pemikirannya tentang sinema Indonesi.

"Film Indonesia sangat maju dan saya berharap kita terus berkarya dengan baik," kata pemilik nama asli Didi Widiatmoko. "Karya-karya besar harus tetap hadir, harus stabil,” imbuhnya.

Demi mewujudkan karya besar dengan kualitas baik, menurut Didi, mau tidak mau para sineas harus memutar otak agar bisa stabil dalam berkarya dan ini bukanlah hal mudah.

Diyakini Didi, konsep menjaga intensitas berkarya dengan kualitas film yang bagus tidak hanya berlaku untuk film-film besar. Film independen pun dituntut hal yang sama.

“(Sineas) film independen harus terus berkarya karena film enggak mungkin seperti yang lain. Karya harus diutamakan," ujar ayah lima anak itu.

Tak hanya soal sinema, Didi berbagi pemikiran terkait hal yang lebih serius, seperti moral. Dalam sebuah wawancara dengan laman bernuansa Islami, Didi menyoroti revolusi watak bangsa.

Didi menyoal peranan generasi tua. Ia tak menyalahkan generasi muda yang hidup pada zaman sekarang. Justru orang tua lah menurutnya yang wajib memberikan pembinaan kepada generasi muda.

Didi juga menyoroti masalah sumber daya manusia. Ia menyadari pentingnya revolusi total watak bangsa. Didi bermimpi bangsa Indonesia akan memiliki satu tujuan dan pemikiran, serta saling dukung.

Kini Didi Petet telah tiada. Seluruh api pemikirannya itu, mari kita jaga dan wujudkan. Selamat jalan, Didi Petet.

(Sumber : CNN Indonesia)

Cantik, muda, dan multi talenta. Tiga kata ini tampaknya cocok untuk menggambarkan sosok Zahrah Zubaidah (20), gadis yang melukis wajah Soekarno dan Nelson Mandela dengan crayon. Lukisan itu kini tersebar di berbagai sudut Kota Bandung untuk memperingati 60 tahun Konferensi Asia Afrika.

"Waah, seneng sekali lihat karya saya bisa dinikmati banyak orang. Rasanya susah dilukiskan dengan kata-kata," ujar perempuan yang akrab disapa Zahrah ini saat ditemui di kediamannya, Jalan Tubagus Ismail, Kota Bandung, Selasa (21/4/2015) sore.

Keterlibatannya menjadi bagian KAA tahun ini tidak direncanakan sebelumnya. Orangtuanya lah yang mempertemukanya langsung dengan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil pada Februari lalu. Namun bukan untuk KAA.

"Saya sedang mencari beasiswa untuk meneruskan kuliah. Saya sudah memilih dan diterima di salahsatu perguruan tinggi seni di Skotlandia, namun biayanya besar. Makanya saya ditemani abi dan umi ke pemkot, mau tanya apakah ada beasiswa dari Pemkot. Ternyata tidak ada," ungkap lajang kelahiran 1995 ini.

Suasana yang jauh tak biasa terlihat di sepanjang Jalan Asia-Afrika, Senin (20/4/2015) malam.
Suasana tak biasa itu apalagi kalau bukan karena menyemutnya warga Kota Bandung yang tumplek di Jalan Protokol bersejarah tempat lahirnya peristiwa penting, Konferensi Asia Afrika 60 tahun silam.
Ada alasan tertentu mengapa warga Bandung dan sekitarnya tumplek di jalan ini.
Mereka ingin menikmati wajah baru Jalan Asia Afrika yang sekarang berubah wujud bak kota-kota di Eropa.
Perubahan ini nampak jelas terlihat dari suasana lampu-lampu jalan yang terang benderang

Ratusan sepeda motor komunitas Bikers Brotherhood pawai keliling Kota Bandung sambil membawa bendera negara peserta peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA). Mereka memperlihatkan kontribusi positif memeriahkan peringatan 60 tahun KAA yang puncak acaranya pada Jumat 24 April 2015.

Kegiatan konvoi berlangsung Sabtu (18/4/2015), itu turut diramaikan 20 OV Van Radio di Bandung serta mobil Bandros. Konvoi dipimpin langsung El Presidente of Bikers Brotherhood, Budi Dalton.

Rute peserta pawai dimulai di Balaikota - Padjajaran-Cicendo-Otista- Kebun Jukut - Perintis Kemerdekaan - Braga - Suniarja - Otista - Sudirman - Jamika - Peta - BKR - Laswi - Ahmad Yani - PHH Mustofa - Surapati - Gasibu - Gedung Sate - Dago - Merdeka- Lembong - Tamblong - Asia Afrika - Cikapundung - Braga- Wastukancana dan berakhir kembali di Balaikota.

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan perayaan peringataan 60 tahun KAA membuktikan bisa merekatkan multi dimensi warga Bandung.

"Tolong sukacitanya untuk menyambut acara yang berlangsung sepuluh tahun sekali ini," ucap Emil, sapaan Ridwan, sewaktu menyambut kedatangan rombongan pawai di Jalan Cikapundung Timur atau samping Gedung Merdeka.

Emil menjelaskan, kegiatan konvoi sambil mengibarkan bendera peserta KAA ini merupakan bentuk pesan kepada dunia sebagai simbol pertemanan dan perkawanan.

"Kita berkeliling mengibarkan bendera sahabat-sahabat kita, karena hidup adalah pertemanan. Orang kalau ingat Bandung ingat Asia Afrika," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Emil mengajak Bikers Brotherhood dan masyarakat untuk membantu menjaga kondisifitas rangkaian acara KAA di Bandung.

"Saya titip jaga suasana kondisif, khususnya pada 24 April kerena ada puluhan kepala negara yang hadir," kata Emil.

(sumber : detik)

Belum lama ini pabrik es batu di Cakung, Jakarta Timur, diamankan polisi karena mengedarkan es yang diduga mengandung bakteri dan bahan beracun. Lalu bagaimana membedakan es batu layak konsumsi dan tidak?

Menurut Direktur Standarisasi Produk Pangan BPOM Teti Sihombing untuk membedakan es batu yang layak konsumsi tidak bisa dilakukan dengan kasat mata. Karena semua harus diuji coba di laboratorium untuk mengetahui bakteri yang ada di dalam air yang digunakan.

"Perbedaan fisik tampaknya akan susah. Karena teori bahwa yang menggunakan air matang es batu terlihat lebih bening tidak bisa dipake. Karena pembentukan fisik es batu tergantung tekhnologi pendinginan yang digunakan," ujar Teti .

Baca-Baca >>

Mengenang Didi Petet, Pemikiran Sang Pemain Watak

Hits:69 Kabar Indonesia

Mengenang Didi Petet, Pemikiran Sang Pemain Watak

“Papi pernah bilang cinta sama Mami. Itu artinya seluruh hidup Papi, Papi berikan untuk Mami sampai Papi nanti mati.” Agaknya siapa pun pemirsa sinetron Preman Pensiun yang ditayangkan sebuah stasiun televisi swasta pada awal 2015 belum lupa ucapan Kang Bahar yang diperankan Didi Petet.Siapa sangka, hari ini, Jumat (15/5), kata-kata itu...

Read more

Ini Zahrah, Hijaber Cantik Pelukis Wajah Soekarno dan Nelson Mandela untuk KAA

Hits:376 Pernak-Pernik

Ini Zahrah, Hijaber Cantik Pelukis Wajah Soekarno dan Nelson Mandela untuk KAA

Cantik, muda, dan multi talenta. Tiga kata ini tampaknya cocok untuk menggambarkan sosok Zahrah Zubaidah (20), gadis yang melukis wajah Soekarno dan Nelson Mandela dengan crayon. Lukisan itu kini tersebar di berbagai sudut Kota Bandung untuk memperingati 60 tahun Konferensi Asia Afrika. "Waah, seneng sekali lihat karya saya bisa dinikmati banyak...

Read more

Menikmati Nuansa Eropa di Jalan Asia-Afrika

Hits:202 Sekitar Bandung

Menikmati Nuansa Eropa di Jalan Asia-Afrika

Suasana yang jauh tak biasa terlihat di sepanjang Jalan Asia-Afrika, Senin (20/4/2015) malam.Suasana tak biasa itu apalagi kalau bukan karena menyemutnya warga Kota Bandung yang tumplek di Jalan Protokol bersejarah tempat lahirnya peristiwa penting, Konferensi Asia Afrika 60 tahun silam.Ada alasan tertentu mengapa warga Bandung dan sekitarnya tumplek di jalan...

Read more

Bawa Bendera Peserta Peringatan KAA, Bikers Brotherhood Pawai Keliling Bandung

Hits:190 Sekitar Bandung

Bawa Bendera Peserta Peringatan KAA, Bikers Brotherhood Pawai Keliling Bandung

Ratusan sepeda motor komunitas Bikers Brotherhood pawai keliling Kota Bandung sambil membawa bendera negara peserta peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA). Mereka memperlihatkan kontribusi positif memeriahkan peringatan 60 tahun KAA yang puncak acaranya pada Jumat 24 April 2015. Kegiatan konvoi berlangsung Sabtu (18/4/2015), itu turut diramaikan 20 OV Van Radio di Bandung...

Read more

Begini Cara Bedakan Es Batu Layak Konsumsi dan yang Tidak

Hits:190 Keluarga Kita

Begini Cara Bedakan Es Batu Layak Konsumsi dan yang Tidak

Belum lama ini pabrik es batu di Cakung, Jakarta Timur, diamankan polisi karena mengedarkan es yang diduga mengandung bakteri dan bahan beracun. Lalu bagaimana membedakan es batu layak konsumsi dan tidak? Menurut Direktur Standarisasi Produk Pangan BPOM Teti Sihombing untuk membedakan es batu yang layak konsumsi tidak bisa dilakukan dengan kasat...

Read more